dEw iTu eMbun...

Minggu, 30 Agustus 2009
STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN
I.Pembebanan Struktur Bangunan.

I.1. Beban Mati
Merupakan beratnya struktur sendiri, berat dinding dan elemen lain yang permanen pada bangunan. Bahan stuktur permanen seperti baja mutu tinggi, beton pratekan dan campuran aluminium mengurangi besarnya beban mati.

I.2. Beban Hidup
Merupakan berat beban-beban yang dapat berpindah-pindah atau berubah arah. Sebagai contoh: orang, mesin, penyekat flexible, air hujan salju, tekanan dan isapan angin, tekanan air dan tekanan tanah.

I.3. Beban Angin
Merupakan beban yang timbul karena tekanan dan isapan angin. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu: kecepatan angin, kepadatan udara, permukaan bidang dan bentuk dari bangunan. Untuk menanggulangi tekanan dan isapan angin perlu dipasang penguat-penguat yang merupakan siku-siku, bangunan petak, gelagar dan penguat sudut sebagai konstruksi penahan angin.

I.4. Beban Termis
Merupakan beban yang terjadi karena perubahan temperatur dalam siang menjadi malam atau musim dingin menjadi musim panas. Perubahan termis dapat mengakibatkan memuai atau menyusutnyan bahan struktur dan akan mendorong atau menarik bagian-bagian stuktur.

I.5. Gerak Bangunan Akibat Gerak Tanah
Gerakan ini disebabkan oleh adanya dua atau beberapa macam tanah di bawah bangunan, sehingga reaksi tanah tidak sama atau merata. Diperlukan untuk menyelidiki tanah sebelum menentukan sistem pondasi yang akan digunakan. Penyelidikan tanah dapat berupa sondering, tes laboratorium atau pengeboran untuk menentukan garis permukaan air pada musim kemarau dan hujan.

I.6. Goyangan Bangunan Akibat Gempa Bumi
Terjadi akibat longsoran tanah, gempa tektonik, letusan gunung berapi, bahan peledak pada tambang. Getaran gempa dapat berupa gerak vertikal dan horisontal. Hubungan-hubungan dan landasan struktur mendapat goyangan seperti hendak dipatahkan dan diuji kekokohannya. Perlu diadakan perhitungan terhadap gempa pada bangunan 4 lantai atau lebih dan bangunan besar walaupun tidak bertingkat.

I.7. Beban Dinamis
Merupakan beban yang berpindah-pindah tempat atau berubah-ubah beratnya secara cepat. Bila berat beban berubah dengan cepat dan teratur akan menimbulkan resonansi.

II. Statika dan Ilmu Kekuatan

Statika adalah ilmu keseimbangan dari gaya-gaya luar dan rangka bangunan sebagai keseluruhan.
Ilmu kekuatan bahan adalah ilmu mengenai kekuatan gaya-gaya yang akan dihasilkan oleh partikel-partikel di dalam elemen-elemen bahan untuk struktur yang dibuat dari bermacan-macam bahan bangunan.

III. Gaya

Gaya mempunyai tiga sifat:
1. Besaran
2. Arah
3. Titik tangkap

Gaya yang berjumlah 2 atau lebih yang bekerja pada 1 titik dapat diuraikan menjadi satu gaya resultan, sebaliknya gaya dapat diuraikan dua atau lebih gaya lain.

IV. Tarik Murni

Suatu bahan linier apabila ditarik dari dua arah yang berlawanan, maka partikel-partikel atau molekul-molekul bahan itu akan tertarik dan mengadakan perlawanan. Percobaan membuktikan bahwa bahan bangunan seperti kayu, baja, batu dan lain-lain mempunyai modul elastisitas yang berlainan dan dalam batas-batas tertentu.

V. Tekan Bumi

Merupakan kebalikan dari tarik, bahan yang linier yang tertekan, maka partikel akan memendek ke arah gaya tekan tapi kearah tegak lurus sumbu gaya partikelnya akan mengembang. Perpendekan tergantung pada besar gaya luar yang menekan, luas potongan lintang bahan, panjang bahan dan modul elastisitas terhadap tekan. Bahan yang tidak mempunyai daya tahan terhadap gaya tarik pada umumnya dapat menerima gaya tekan yang besar, seperti bahan alam, bata keras dan beton.

VI. Momen

Timbul apabila pada suatu bidang datar bekerja suatu gaya, yang tidak melalui sumbu, sumbu yang berdiri tegak lurus pad bidang itu, maka bidang itu akan berputar terdorong oleh gaya.

UPPER STRUKTUR

Atap merupakan bagian paling atas dari suatu bangunan, yang melindungi secara fisik maupun metafisik. Adapun fungsi dari atap yaitu mencegah terhadap pengaruh angin, bobot sendiri dan curah hujan, melindungi ruang bawah, manusia serta elemen bangunan dari pegaruh cuaca seperti hujan, sinar panas matahari, sinar cahaya matahari, petir, dll. Pekerjaan atap terdiri dari tiga unsur, yaitu kuda-kuda , rangka atap dan penutup atap. Kuda-kuda akan menopang suatu atap yang dirangkai dengan rangka atap. Rangka atap terdiri dari gording sebagai rangka pengaku dan tumpuan kaso di bagian tengah, nok sebagai rangka pengaku dan tumpuan kaso dibagian paling atas (bubungan), jurai sebagai rangka penghubung antara dua arah kaso dan sebagai kedudukan talang. Murplat merupakan rangka pengaku dan tumpuan kaso di atas ringbalk atau badan bangunan serta kaso atau reng bila penutupatapnya dari genteng. Bila menggunakan penutup atap dari lembaran seng metal, fiber, atau asbes, penutup atap tersebut akan langsung dipakukan pada gording.

Nama bagian-bagian atap yaitu:
1. Bubungan
Bubungan merupakan bagian atap paling atas yang selalu dalam kedudukan mendatar. Sering kali juga bubungan atap menentukan arah.
2. Tirisan atap
Merupakan bagian terbawah garis atap, menentukan garis paling bawah atap yang mendatar.
3. Garis patahan atap
Pada tambahan kasau miring atau pada atap mansard, adalah garis pertemuan antara dua bidangatap yang berbeda kemiringannya. Arahnya sejajar dengan garis tirisan atap, berarti kedudukannya mendatar.
4. Jurai luar
Merupakan bagian tajam pada atap berawal dari garis tiris atap sampai bubungan (pertemuan dua bidang atap bangunan dengan sudut mengarah keluar).
5. Jurai dalam
Merupakan bagian tajam pada atap berawal dari garis tiris atap sampai bubungan(pertemuan dua bidang atap bangunan dengan sudut mengarah kedalam).
6. titik pertemuan jurai dan bubungan adalah tempat bertemunya 3 bidang atap atau lebih.
7. bubungan penghubung miring
merupakan garis jurai pada bidang –bidang atap yang tinggi bubungannya berbeda dan bertemu pada sutu titik, juga berfungsi menghubungkan dua titik pertemuan jurai dan bubungan.
8. pinggiran gevel
merupakan bagian akhir dari atap pada gevel (dinding berbentuk segitiga.


KEMIRINGAN ATAP

Dipengaruhi prinsip konstruktif (konstruksi atap datar, atap kasau, atau atap peran/gording. dipengaruhi juga oleh pelapis atap, semakin banyak celah, semakin kecil ukuran elemen penutup atap maka atap harus dibuat semakin curam agar air hujan dapat mengalir dengan cepat. Juga dipengaruhi oleh cuaca dan iklim.


BAHAN KONSTRUKSI ATAP

Kayu
1. bahan bangunan yang sesuai untuk lebar bentang tidal lebih dari 4m karena mudah didapat, mudah dikerjakan dengan alat sederhana, bobot agak ringan, kuat tarik, kuat tekan dan kekuatan lendutan cukup tinggi
2. Merupakan bahan bangunan ekologis karena dapat dibudayakan.
3. kekurangannya, selalu menyesuaikan kadar air dengan keadaan sekitar sehingga bisa menyusut atau mengembang.
4. Mudah membusuk jika terkena air pada bagian yang tidak terkena pengudaraan.

Baja
1. Baja berbentuk profil gilas atau pelat yang dibengkokan merupakan bahan bangunan atap yang sesuai untuk bentang lebar 10-30 M.
2. biasanya merupakan konstruksi rangka batang yang dilas atau dibaut.
3. biasanya disediakan secara prakilang / prefabrikasi di bengkel tertentu sebelum dimuat ke tempat bangunan.


Balok Beton bertulang
1. Bahan ini apabila di cor di tempat, hanya cocok untuk balok-balok horizontal saja. Apabila digunakan untuk rangka batang vertikal harus di cor dalam keadaan mendatar pada lantai kerja kemudian diangkat keatas ring balok.
2. ketepatgunaannya terbatas karena bobotnya cukup berat.
3. sesuai untuk lebar bentang 4 – 10 M


KONSTRUKSI KUDA-KUDA KAYU

Konstruksi kuda-kuda tradisional

1. Juga dinamakan konstruksi atap peran (gording)
2. Untuk atap pelana, atap perisai, atap lesenaar dan atap datar.
3. Dipengaruhi konstruksi tradisional Belanda.

Konstruksi Atap Kasau

1. Atap kasau dan atap kasau balok bangsal merupakan konstruksi tanpa kuda-kuda.
2. kemiringan atap > 300
3. Sesuai untuk rumah yang agak kecil.
4. Setiap kasau bersilangan gunting bertindak sebagai kuda-kuda penopang yang menyalurkan muatan langsung ke balok loteng.
5. Panjang kasau < 5M Konstruksi kuda-kuda gantung 1. Merupakan sistem atap yang menyalurkan semua beban ke dinding luar yang menerima beban. 2. Konstruksi ini dipilih bila panjang balok loteng melebihi 5 M tanpa adanya tiang atau dinding pendukung 3. kuda-kuda dengan 1 tiang cocok untuk bentang < 8M, kuda-kuda dengan dua 2 tiang untuk lebar bentang < 12M. 4. Sambungan tarik pada balok gantung dan balok loteng dapat dibuay dari pelat string dan purus atau yang lebih sederhana dengan baut simplex. Konstruksi kuda-kuda dengan tiang. 1. Merupakan sistem konstruksi atap paling sederhana dan yang menyalurkan beban kedinding luar yang menerima beban maupun ke ander (tiang yang mendukung balok bubungan) yang menyalurkan beban atap ke dinding dalam yang menerima beban. Konstruksi kayu rangka batang (vakwerk). 1. Merupakan konstruksi rangka segitiga saja dimana garis sumbu batang harus lurus dan masing-masing hanya menerima gaya tekan dan tarikan. 2. Garis sumbu batang bertemu pada titik simpul yan bekerja sebagai engsel dalam didang rangka batang. 3. Beban pada konstruksi rangka batang hanya boleh bekerja pada titik simpul. KONSTRUKSI LANGIT-LANGIT

Pengertian, Fungsi dan Konstruksi

1. Biasanya dipasang untuk estetika ( menutupi konstruksi kuda-kuda atap atau balok dukungan pada konstruksi pelat langit beton bertulang dan sebagainya) maupun karena kebutuhan teknis (terhadap kebakaran, perbaikan akustik ruang atau sebagai penutup instansi listrik, ac, dan utilitas lainnya).
2. Terdiri dari dua bagian yaitu konstruksi rangka dasar/rangka penggantung dan lapisan penutup langit-langit.

KONSTRUKSI RANGKA DASAR LANGIT-LANGIT

1. Konstruksi ini sebaiknya disesuaikan dengan jarak kssau atau konstruksi pelat langit dari kayu (bila bangunan kayu bertingkat) sehingga sesuai dengan ukuran pelat penutup langit-langit.
2. Penutup langit-langit dipotong sesuai konstruksi dsar dan dapat dipaku dibawah kasu atau konstruksi pelat lantai kayu.
3. Dapat berfungsi sebagai lapisan atap kedua yang kedap air, tahan terhadap kebocoran.

KONSTRUKSI RANGKA PENGGANTUNG

- Biasanya dibuat daru usuk 5/7 yang dipasang berselingan sesuai dengan bentuk dan ukuran bahan penutup langit-langit.
- Konstruksi rangka penggantung dari logam terdiri dari baja/aluminium profil tegak lurus yang dipasang langsung pada kawat gantung oleh penjepit.


BAHAN PENUTUP LANGIT-LANGIT
1. Triplek, bahan ini dapt dibentuk sesuai ukuran rangka langit-langit. Tripleks agak peka terhadap air sehingga perlu diawetkan dengan cat atau lapisan rapat air lainnya di bawah atap genteng.
2. Serat semen ( eternit), bahan ini diperdagangkan dengan ukuran standart yaitu 1x1 M dan 1x2 M, sehingga rangka harus menyesuaikan ukuran tersebut. Untuk memperkuat eternit dengan tebal 6 mm, sebaiknya diberi rangka tambahan sehingga ukuran maksimal tidak melebihi 0,5x1 M
3. Gipskarton, bahan ini diperdagangkan dengan ukuran 1,22 x 2,44 M, tebal 10 – 12 MM. Bahan ini bentuk dan ukurannya dapat disesuaikan dengan bentuk konstruksinya. Untuk mencegah kerusakan diperlukan pelapis atap kedap air. Untuk mencegah lengkung, ukuran maksimal dibuat 0,6 x 0,6 M.
4. Papan kayu, dipilih jenis kayu dengan motif indah dan warna terang. Bentuk dan ukuran disesuaikan konstruksi langit-langit. Tebalnya dpilih 10 – 14 MM.
5. Bambu, bahan ini sering digunakan sebagai anyaman di rumah pedesaan. Motif dan ukurannya dapat dipesan langsung pada produsennya.



SUPER STRUKTUR

PENGERTIAN DINDING

Dinding dapat diartikan sebagai bagian struktur bangunan yang berbentuk didang vertikal dan yang berguna untuk melindungi, membagi.

FUNGSI DINDING

1. sebagai pemisah antar ruang.
2. sebagai penahan cahaya, angin, hujan, banjir, dan lain-lain yang bersumber dari alam.
3. sebagai penahan struktur.
4. sebagai penahan kebisingan untuk ruang yang memerlukan ambang kekedapan suara tertentu seperti studio rekaman atau studio siaran.
5. sebagai penahan radiasi sinar atau zat-zat tertentu seperti pada ruang radiologi, ruang operasi, laboratorium, dll.
6. sebagai fungsi artistik tertentu.

JENIS-JENIS KONSTRUKSI DINDING

1. Konstruksi dinding masif.
Merupakan dinding dari 1 bahan bangunan saja (termasuk di dalamnya mortar dan plesteran). Fungsinya menerima beban (load bearing wall/struktur primer serta menahan radiasi panas sinar matahari.

2. Konstruksi dinding batu bata.
Merupakan dinding batu buatan yang dibakar, dengan ketebalan minimal setengah batu atau ±11 CM. Diperkuat rangka pengaku (kolom/ balok beton bertulang), setiap luas 12 M2 / setiap panjang 2-3 M siar tegak diusahakan tidak merupakan 1 garis tetapi harus bersilangan.

3. Konstruksi dinding batako atau conblok.
Memiliki ketebalan sekitar 15 cm, tinggi maksimal 3M, panjang dinding maksimal 7,5 M dan luas maksimal 12 M2. untuk ukuran yang melebihi ketentuan diatas perlu ditambahkan kolom praktis dan ring balok sebagai pengikat atas. Dan merupakan campuran dari mortar(spesi) 1 pc : 5 pasir.

4. Konstruksi dinding beton.
Terbuat dari campuran beton (pc, agregat kasar dan halus serta air) yang dicor dalam bekesting. Dapat diperkuat dengan tulangan baja, anyaman tulangan baja atau serat baja dst. Keuntungan dari konstruksi ini yaitu tahan terhadap kebakaran, tahan gempa bumi, penyerap panas dan perambatan suara melalui materi.

5. Konstruksi dinding tanah liat (pise).
Kegunaan tanah liat dalam gradasi yang cocok dan dalam keadaan lembab dapat ditumpuk/ditumbuk dalam bekesting yang mirip dinding beton. Bekesting tanah liat dapat digunakan bertahap karena setelah ditumbuk tanah liat menjadi stabil dan bekesting dapat langsung dilepas. Tanah liat ditumpuk dalam bekesting setebal < 10 cm kemudian dipadatkan menjadi 5 cm. 6. Konstruksi dinding kerangka dan kolom. Pada dinding berlapis dan dinding rangka, masing-masing tugas dinding (menerima beban, melindungi konstruksi gedung dan penghuni, membagi ruang, menangkal panas, dst) dibagi atas lapisan dinding tertentu. Setiap fungsi dinding dapat dilaksanakan secara optimal. 7. Konstruksi bangunan rangka kayu. Konstruksi rangka kayu merupakan bentuk dasar suatu bangunan. Konstruksi ini dapat digolongkan menjadi 2 yaitu konstruksi rangka tersusun dengan pembangunan konstruksi dinding setingkat demi setingkat, biasanya berkonstruksi tiang – balok dan konstruksi rangka terusan dengan tiang papan yang menembus melalui semua tingkat bangunan. 8. Konstruksi dinding rangka baja. Penanganan konstruksi ini harus dilakukan dengan keahlian dan dikerjakan dengan teliti. Bahan, tegangan, bentuk dan ukuran harus memenuhi syarat peraturan nasioanl. Untuk bagian yang mudah mengalami karatan maka harus dilapisi cat anti karat. 9. Konstruksi dinding rangka beton bertulang. Konstruksi bangunan rangka beton bertulang terdiri dari kolom beton bertulang dan pelat lantai bertulang yang kadang diperkuat dengan balok pendukung. Konstruksi ini sangat cocok untuk bangunan gedung tinggi, bangunan di daerah rawan gempa, dsb. 10. Konstruksi dinding dalam, pemisah ruang. Konstruksi ini tidak mempengaruhi kestabilan bangunan karena tidak menerima beban apapun. Tetapi mempunyai fungsi lain yaitu meredam suara, mencegah kebakaran dan mengatur fungsi dalam ruang. JENIS-JENIS KONSTRUKSI DINDING DALAM 1. Konstruksi dinding batu bata. Tidak menerima beban. Dengan tebal dinding minimal 11 cm dengan aturan batu memanjang, kolom praktis dipasang setiap 2 – 3 M dan dibawah pelat lantai dipasang balok. 2. Konstruksi dinding batako/ conblock. Dipasang diatas lantai beton dengan tebal > 80 mm (batako tidak berlubang) dan tebal < 60 mm (batako berlubang). Dan pada setiap 4 m harus dipasang kolom praktis, setiap tinggi 3 m dipasang ring balok. 3. Konstruksi dinding kayu dan bambu. Konstruksi ini dapat dengan mudah dibongkar pasang. Biasanya menggunakan rangka kayu ukuran 6/12 baik arah vertikal maupun horisontal dengan sambungan bibir lurus atau takikan. Kemudian rangka dilapisi papan kayu, tripleks, gypsum board, semen berserat sintetis, papan serat kayu – semen, anyaman bambu, dll. 4. Konstruksi dinding tirai. Terdiri dari elemen dinding dan jendela ringan yang dipasang berjarak dengan strktur primer. Umumnya memiliki bagian yang terdiri dari kaca yang sangat tinggi atau mungkin kaca saja. SUB STRUKTUR

Pengertian pondasi.

Pondasi merupakan komponen bangunan yang menghubungkan bangunan dengan tanah. Pembangunan pondasi harus dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap berat pondasi itu sendiri , beban-beban berguna dan gaya-gaya luar seperti: tekanan angin, gempa bumi, dan lain-lain. Adanya penurunan pondasi setempat atau secara merata yang melebihi batas tertentu akan menyebabkan rusaknya bangunan. Oleh karena itu, penggalian tanah untuk pondasi sebaiknya harus mencapai tanah keras.

Fungsi pondasi.

Adapun fungsi dari pondasi yaitu sebagai kaki bangunan atau alas bangunan, sebagai penahan bangunan dan meneruskan beban dari atas ke dasar tanah yang cukup kuat, dan sebagai penjaga agar kedudukan bangunan stabil (tetap).

Kekuatan tanah sebagai dasar pondasi.
Tergantung pada susunan dan struktur tanah, makin heterogen strukturnya makin sulit perencanaan pondasinya.

Penyelidikan kekuatan tanah mencakup:
Kedalaman dan ketebalan lapisan bumi, terutama lapisan yang akan menerima beban, tegangan tanah yang akan diizinkan keadaan hidrologisnya.

Kekokohan landasan tanah juga dipengaruhi oleh:
1. pemadatan dan penurunan tanah akibat vibrasi lalu lintas, peralatan berat industri, dll.
2. penurunan tanah akibat perubahan hidrologi atau pengikisan pada tepi sungai, dll.
3. pergeseran tanah atau longsor akibat tekanan berat, terendam air akibat banjir atau air pasang.

Hal-hal yang dihindari untuk menjamin kestabilan/keseimbangan bangunan terhadap pembebanan:

BAHAN PONDASI

Bahan bangunan berkaitan dengan bentuk pondasi, seperti : konstruksi kayu untuk rumah panggung/ tiang pancang, batu kali, batu merah atau beton berbatu untuk pondasi lajur, beton bertulang untuk pondasi setempat, pelat beton bertulang, tiang pancang atau pemboran atau baja untuk tiang pancang.

1. Pondasi batu kali.
Dibuat dengan batu pecahan yang cukup besar.
Batu kali disusun berselang dan diisi rapat dengan mortar (1/2 pc : 1 kapur : 7 pasir
Lebar pondasi minimal adalah tebal dinding ditambah 10 cm kanan kirinya. Tinggi minimal 2x lebarnya.

2. Pondasi batu bata.
Harus dibuat dari batu bata mutu tinggi agar tidak hancur pada tanah yang lembab
Tinggi pondasi batu bata minimal adalah 5 lapis batu dengan siar melintang yang teratur.

3. Pondasi beton tidak bertulang.
Pada umumnya hanya digunakan pada gedng bertingkat.
Pondasi ini hanya menerima gaya tekan saja.
Mutu beton minimal kelas II, K125.

4. Pondasi beton bertulang.
Digunakan pada bangunan bertingkat banyak dan kalu daya dukung tanah kecil.
Perbandingan lebar dengan tinggi tidak terbatas , sehingga ekonomis karena menghemat beton.
Tebal selimut beton sebaiknya setebal 5 cm.

5. Pondasi kayu
Dapat digunakan sebagai pondasi lajur maupun tiang pancang di daerah rawa atau dalam air.
Kekurangan oksigen dalam air/rawa akan menghindarkan kebusukan.

BALOK PEMERATA BEBAN (SLOOF)

Berfungsi untuk membagi beban secara merata sekaligus mengikat pondasi batu kali atau tiang. Dapat dibuat dari konstruksi kayu, batu bata, atau beton bertulang.


LAPISAN KEDAP AIR (TRASRAAM)

Berfungsi untuk mencegah naiknya kelembaban tanah melalui pondasi ke dalam dinding yang menyebabkan dinding busuk. Trasraan dapat berupa lapisan batu merah diikat dengan mortar ( 1 pc : 3 pasir), lapisan aspal, karet trasraam, plat seng datar, plesteran emulsi. Dapat dibagi menjadi trasraam vertikal dan horisontal.

Label:

posted by dEw @ 20.37  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
dEw itu embun...yaph btuL skaLii...silakan buka kamus English-Indonesia and u'll find tat word ^^
About Me

Name: dEw
Home: BaLi da beauTifuL isLand
About Me: I'm shopaholic... I'm cuTe (he3...bo0ng) dmen maem... dmen es krim cokLad... dmen bintang, Langit biRu, n ujaN... dMen gratisaN (he3...) lg brusaha mncapai smwa obsesi2quu...
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.

Links
  • link 1
  • link 2
  • link 3
  • link 4
Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER